Laman

Minggu, 18 Juni 2017

Cerpen : "Smiling Tears"

Smiling Tears

            Dia itu sesuatu. Sesuatu yang mengajarkanku betapa berharganya setetes air mata. Sesuatu yang mengguruiku tentang sebuah keharusan air mata untuk tidak terjatuh. Namun aku tahu, meskipun tampak bahagia, dia rapuh di dalam.
Sekilas untaian kata dariku tentangnya. Dia berbeda dengan wanita pada umumnya. Berselimut wajah bahagia, dia terus berusaha menutupi luka masih berdiam di kalbunya. Fadilla Ramadhana, nama yang aku sebut dalam setiap doaku. Nama yang akan selalu ku janjikan. Nama yang ingin ku bawa keluar dari sumur lara.
“Dil, kamu siap-siap. Ada yang ingin bertemu denganmu besok”,
“Siapa? Tumben sekali ada yang mencari saya”, wajahnya penuh tanda tanya.
“Sudahlah, tak usah banyak tanya. Saya yakin kamu pasti senang bertemu dengannya.” balasku kepadanya.
“Hmm..., oke. Tapi, saya harus apa? Apa saya harus berdandan rapi? Saya betul-betul penasaran”, ia masih diselimuti rasa penasaran yang tinggi.
“Tak usah berdandan kamu pun tetap cantik. Toh, dia masih ingin kamu yang apa adanya. Sekarang, beristirahatlah. Tersenyumlah sebelum tidur agar mimpimu indah. Allah menyaksikanmu. Jadi, jangan lupa berdoa.”, aku selalu berusaha menampakkan senyumanku di hadapannya. Dia membutuhkan senyum orang-orang yang di dekatnya. Karena aku tahu dia rapuh. Aku pun selalu ingin lekukan itu juga tampak di wajahnya.
“Ah, kamu bisa saja. Hati-hati jalan pulang. Allah juga menyaksikanmu.”, ia membalasku dengan senyuman khas yang membuatku akan selalu mengingatnya.
“Ya sudah, saya pulang dulu. Assalamu’alaikum..”
Dia punya banyak bahagia yang masih mendekam dalam hatinya. Aku ingin mengeluarkan semua itu. Karena dengan senyum yang ia tampakkan, aku bahagia.
~{0}~
“Assalamu’alaikum, Bu. Azhar pulang”, aku mengetuk pintu rumahku.
“Wa’alaikumussalam, Nak. Ayo masuk, Nak. Ibu sudah siapkan sayur sop kesukaanmu”, senyumnya seakan memintaku untuk duduk diam di kursi yang ada di sekitar meja makan.
“Wahh.... Pas banget. Kebetulan saya sedang suka sama sayur sop, apalagi ini buatan ibu. Pasti rasanya enak dan saya sudah merindukannya sejak lama”
“Ah, bisa saja kamu, nak. Oh iya, bagaimana hubunganmu dengan dia?”, Ibu menunjukkan keseriusannya. Siapa yang ibu maksud?
“Dia siapa ya, Bu?”, aku mengerutkan kening yang sedikit bermandikan keringat. Dalam otakku, seribu tanda tanya menggantung menanti jawaban.
“Sudahlah, jangan mencoba untuk berbohong pada ibu. Nak, kau sedang jatuh cinta, bukan?”, tangannya masih memegang pisau yang baru saja beliau gunakan untuk mengupas kulit kentang.
Mengapa tiba-tiba beliau bertanya seperti itu? Memang benar, akhir-akhir ini senyum gadis itu selalu terpampang di depan wajahku. Tetapi, ibu tahu dari mana? Sedangkan aku saja belum menyimpulkan sendiri tentang perasaanku pada gadis itu.
            “Ah, ibu ada-ada saja. Dia kan sahabatku, Bu. Mana mungkin saya jatuh cinta padanya? Lagipula, saya sudah berjanji untuk tidak menyakitinya. Dia itu sudah punya pujaan hati. Dan yang jelas, itu bukan saya”, aku beruntung masih dapat mengelak dari ibu. Tetapi, aku benar-benar menyesal telah membohonginya.
            “Ya sudahlah. Tak apa kalau kamu tidak ingin jujur pada ibumu, Nak. Sesungguhnya, ibumu adalah orang yang paling tahu segala hal tentang dirimu. Jadi, jangan coba-coba berbohong pada ibu”, senyumnya menghujam batinku. Matanya seolah membunuhku. Ia sangat yakin kalau aku sedang berbohong padanya
            Maaf ibu, aku bukan ingin mencoba membohongimu. Ini bukan waktu yang tepat bagiku. Aku masih ingin merahasiakannya. Aku masih tidak tega apabila ibu sedih ketika mendengar ini, karena aku tahu bahwa seorang ibu dapat merasakan sakit hati yang dirasakan oleh anaknya. Ibu, izinkan aku menyembunyikannya sebentar saja dan aku janji, aku akan beritahu ibu kelak.
~{0}~
            Dering handphone-ku berbunyi. Seseorang meneleponku. Tertera nama yang sangat familiar di layar. Zaynal, sahabat karibku yang sedang merantau di ibukota. Sosok yang mengajariku banyak hal. Dia sudah lama tidak pulang ke kampung halamannya. Hari ini, dia akan kembali ke sini.
            “Halo. Assalamu’alaikum, Har”, Zaynal memulai perbincangan jarak jauh ini.
            “Wa’alaikumussalam, Nal. Kamu jadi pulang, bukan? Jangan coba-coba lupa pada janjimu kemarin. 14 Mei, di tanggal itu kau akan pulang. Lagipula, seseorang sedang menantimu di sini. Jadi, jangan kecewakan dia, ya?”.
            “Iya iya. Kamu jangan khawatir begitu. Saya akan menepati janji. Oh iya, siapa yang kamu maksud?”
            “Nanti kamu tahu sendiri. Kamu mau saya jemput jam berapa? Mumpung saya sedang tidak sibuk dan saya juga sudah menantikan pertemuan kita”
            “Ah, bisa saja kamu. Oke, jemput saya di stasiun jam 09.00, ya? Saya akan kabari lagi nanti. Wassalamu’alaikum”
            “Oke, siap, pak bos! Wa’alaikumussalam. Hati-hati”
            Handphone ini kumatikan. Bicara tentang Zaynal, dia dulunya siswa terbaik di SMP-ku. Nilainya begitu memuaskan. Terlebih lagi, dirinya sangat bertanggung jawab. Ia sangat risih ketika aku ataupun temannya melakukan sesuatu seenaknya. Dia bahkan pernah memarahiku berjam-jam karena kelalaianku. Dia juga pernah berselisih paham denganku hanya karena seekor ulat. Sungguh, pengalaman yang tak bisa kulupakan.
Namun, ada satu hal yang aku benci darinya. Dia terlalu mudah untuk mencintai orang lain. Hal ini yang membuatku khawatir akan kesetiaannya pada Dilla. Bagaimanapun juga, aku bertanggung jawab atas kebahagiaan mereka dan aku enggan melihat mereka berpisah lebih dini hanya karena keraguan yang menyelimuti mereka. Apalagi, jarak telah memisahkan raga mereka cukup lama. Aku selalu berkata pada Dilla bahwa jarak yang akan menguatkan mereka. Aku juga selalu berkata padanya bahwa dia akan bahagia, kapanpun waktunya.
Jam tanganku telah menunjukkan pukul 08.00. Itu artinya, aku harus segera bersiap untuk menjemput Zaynal. Segera kupakai celana panjang dan kemeja yang belum sempat aku seterika. Serta sepatu dengan sedikit sobekan kecil di bagian depan dan bagian dalam. Aku memang sedikit tak peduli tentang penampilanku. Bagiku, penampilan tetap saja tidak dapat merubah nasib. Don’t judge a book by its cover. Lagipula, dengan penampilan seperti ini pun, aku masih terlihat tampan. Sombong sedikit masih bisa dimaafkan, ya?.
Aku langsung menemui ibu. “Bu, saya pergi sebentar. Saya hendak menjemput Zaynal di stasiun. Dia datang hari ini hendak menemui saya dan Dilla. Maklum lah, bu. Kami sudah lama tidak bertemu.”
“Oh, ya sudah. Jangan lupa membawa bingkisan pada mereka. Ini kan kesempatan yang sangat jarang. Dan segera kau mengatakan perasaanmu ke Dilla. Jangan ditunda-tunda.”
“Ih, ada apa sih, bu? Kenapa ibu suka sekali membahas Dilla? Dia itu hanya sahabatku, bu. Tolong ibu jangan melebih-lebihkan.”
“Haha, terserah kamu. Ya sudah, cepat! Nanti terlambat kamu jemput Zaynal.” Ibu tertawa kecil lalu memposisikan matanya ke arahku.
“Ya sudah, saya berangkat sekarang, bu. Assalamu’alaikum..”
            “Wa’alaikumussalam, nak. Hati-hati”
            Lagi-lagi ibu membahas tentang Dilla. Mengapa harus dia? Tapi, benar juga ucapannya. Sebaiknya aku cepat-cepat mengutarakan perasaanku pada Dilla. Tunggu, perasaan apa? Apakah aku mencintainya? Apakah aku terlambat menyadari hadirnya rasa ini? Entahlah. Mau cinta atau tidak, aku harus tetap membahagiakannya. Itu sudah menjadi tanggung jawabku. Aku juga sudah berjanji padanya. Sebaiknya aku fokus pada janjiku padanya terlebih dahulu. Lagipula, aku tidak begitu yakin tentang perasaan yang kusimpan untuknya.
Tak habis pikir memikirkan soal itu. Membingungkan, semuanya berubah menjadi sesuatu yang membingungkan. Perasaan ini dapat dengan mudah menaik turunkan emosiku. Jika benar, mengapa harus aku yang merasakan ini? Ini benar-benar di luar dugaanku.
Aku mengeluarkan handphone dari saku celanaku. Aku belum mengabari Zaynal soal keberangkatanku. Aku harus mengabarinya agar tak terjadi hal yang tidak-tidak. Aku putuskan hanya mengirimnya sebuah pesan singkat dengan harapan dia membacanya.
Aku kembali melanjutkan perjalananku. Ditemani cahaya matahari yang mulai naik dari ufuk timur. Tidak ketinggalan, suara kicauan burung menambah kehangatan pagi. Terdengar pula suara anak-anak desa sedang bernyanyi dan bergembira. Mereka selalu saja punya cara untuk bahagia. Mereka menemukan kebahagiaan itu dengan cara yang sederhana. Tidak muluk-muluk, dan cukup hanya dengan bermain, menari, dan tertawa bersama.
Setibanya di stasiun, aku duduk di kursi tunggu. Kulihat kembali handphone-ku yang aku letakkan di saku celana. Aku berniat menghubungi Zaynal, bahwa aku telah sampai di stasiun sambil berharap tak terjadi apa-apa padanya. Karena pesan singkatku sedari tadi juga belum dibalas.
“Aduh, bagaimana ini? Belum diangkat juga.”, gumamku sambil mondar mandir kesana kemari menanti kabar dari Zaynal. Aku coba menghubungi dia lagi.
“Iya, halo. Assalamu’alaikum, ris. Maaf baru buka HP. Barusan ketiduran”, suaranya terdengar berat. Aku semakin yakin kalau dia memang baru saja tertidur.
“Wa’alaikumussalam. Owalah ketiduran ternyata. Saya kira kamu kenapa-kenapa. Sampai mana? Berapa menit lagi kira-kira keretamu sampai di sini?”
“Di tiketnya sih sekitar jam 09.18. Ya, paling tidak lima menit lagi. Kamu tunggu saja di sana. Oh iya, Dilla tahu tidak kalau aku hari ini pulang?”
“Kalau soal itu, saya belum kasih tahu. Hitung-hitung kejutan saja. Dia berharap sekali kamu bisa pulang ke sini.”
“Jadi, kamu belum kasih tahu dia? Ya sudahlah, tak apa. Ceritanya nanti saja, ya? Pulsaku tinggal sedikit. Wassalamu’alaikum..”
“Haha.. Ada-ada saja. Lha wong mau pulang kok tidak menyiapkan pulsa dulu. Ya sudah, wa’alaikumussalam..”
~{0}~
“Jadi begini, Har. Saya itu sudah punya kekasih lagi. Saya itu sudah tidak tahan ingin memiliki dia. Maaf kalau saya baru bilang sekarang. Ingat, ya, tadi kamu sudah berjanji untuk jaga rahasia saya. Lagipula, aku lebih berhak memberitahu Dilla soal ini.”, aku terkejut mendengar perkataannya. Mataku terbelalak. Terbayang betapa sedihnya kalau Dilla sampai tahu soal ini. Dalam hati, aku seperti tidak bisa memaafkan Zaynal. Tetapi, di satu sisi pula, aku merasa senang mendengar kabar darinya. Ada apa denganku? Apakah ini perasaan yang sering ibu singgung ketika membicarakan Dilla? Arrgghhh... Ini sungguh aneh.
“Kenapa kamu melakukan hal itu? Bukankah kamu sudah berjanji pada Dilla untuk selalu setia padanya? Saya masih belum siap untuk melihatnya menangis, Nal. Baiklah, saya tidak akan memberitahu rahasiamu ke Dilla. Tapi, kau harus bertanggung jawab atas semua kekecewaannya setelah kau beritahu soal ini. Saya pergi dulu”
Aku berlalu dari Zaynal. Dia benar-benar gila. Dia sama sekali tak memikirkan gadis itu. Sekarang, apa yang lebih buruk dari air matanya?
 Aku kecewa padamu, Nal. Aku kira kau sosok yang pas untuk membahagiakannya. Tetapi, ternyata.. Aku benci caramu membuatnya bersedih. Kau bukan pria sejati. Kau dengan tega menyakiti gadis yang benar-benar mencintaimu. Kau membuatnya mengeluarkan air mata.
“Har, tunggu! Kau tak lupa pada janji kalau kamu akan menjemput saya, bukan? Maafkan saya yang telah membuatmu kecewa. Saya janji akan bertanggung jawab atas kekecewaan Dilla. Saya akan buat dia tersenyum lagi. Tolong bantu saya untuk menemuinya sekarang. Ini waktu yang tepat untuk menjelaskan semuanya. Tolong saya, Har”, matanya berkaca-kaca, bersiap mengeluarkan tetesannya. Wajahnya yang dipenuhi rasa bersalah itu menunduk ke lantai. Air matanya pun kini telah jatuh dan membekas di pipinya.
Aku menjulurkan tanganku ke hadapannya. Hingga ia menggerakkan kepalanya ke atas. Senyumnya kembali mengembang. Perlahan, dia kembali mendapatkan kepercayaanku yang baru saja hilang ditelan kekecewaan yang aku alami.
“Bangunlah... Walaupun saya kecewa. Saya akan tetap menghormati air matamu yang telah terjatuh. Karena saya sadar, saya itu masih sahabatmu yang bertanggung jawab atas kebahagiaanmu juga. Kamu masih punya kesempatan, Nal. Bayarlah dengan kesungguhan hati”
“Terima kasih, Har. Saya beruntung bisa bersahabat dengan sosok pemaaf sepertimu”, ia membangkitkan senyumannya. Dengan cepat, ia lalu memeluk erat tubuhku. Tetapi, raga ini menolak. Bagaimanapun juga raga ini adalah saksi bisu kekecewaan yang hatiku rasakan. Rasa kecewa ini masih belum beranjak.
“Ya sudah, kita ke rumah Dilla sekarang. Ingat! Jangan buat dia kecewa, ya? Saya pegang omongan kamu, Nal”
~{0}~
“Assalamu’alaikum....”, aku mengetuk pintu rumahnya. Seseorang terlihat berjalan dari dalam rumah. Dibukalah pintu rumahnya yang sudah cukup termakan usia.
“Wa’alaikumussalam... Eh, kamu ternyata. Ayo masuk”, senyumnya yang manis seakan memintaku untuk ikut masuk bersamanya. Dilla, ia tampak cantik. Cantik sekali. Aku tak pernah melihatnya sampai seperti ini. Apa yang membuat mata ini betah memandangnya? Pipinya yang agak tembem semakin meyakinkan pandanganku. Ahh tidak tidak! Aku tidak boleh jatuh cinta padanya.
“Emm... Sebentar. Kamu melupakannya. Semalam kan saya bilang kalau ada seseorang yang ingin menemuimu. Dan dia sudah berada di sini. Apa kamu tidak merasakan kehadirannya?”, lisanku menyanggah pandanganku tadi. Ia rupanya sepaham dengan otakku yang tak ingin mataku terlalu lama memujinya.
“Oh, iya. Saya lupa. Sebenarnya siapa dia? Saya penasaran”
“Dia itu seseorang yang telah lama kamu harapkan. Dia kembali dengan banyak cerita yang sangat ingin disampaikannya kepadamu. Dia lah orang yang kamu cintai. Zaynal pulang, Dil”, senyuman manisnya semakin menjadi. Ia tampak bahagia. Sudah lama sekali aku tak melihatnya sebahagia ini.
Tiba-tiba aku ingat sesuatu bahwa sebenarnya Zaynal pulang membawa kabar buruk yang akan ditujukan pada Dilla. Aku harus bersiap melihatnya menangis lagi, lagi dan lagi. Bahkan sekedar untuk bersiap, membayangkannya saja sudah tersiksa. Sebagai sahabat, apakah kegagalan itu kembali menghinggap di diriku? Apakah aku akan gagal lagi mempersatukan mereka, membahagiakan mereka? Sungguh, aku tak akan dapat bangun dari sebuah kegagalan.
            Kebahagiaan di sebuah hubungan yang kita jalani harus dapat dirasakan oleh setiap pelaku hubungan tersebut. Canda, tawa dan senda gurau sudah seharusnya menemani hari-hari kita. Kita tak perlu mewah untuk mewujudkan sebuah kebahagiaan itu. Kita hanya butuh sebuah kepercayaan dan kesetiaan yang tertanam di hati masing-masing. Serta membutuhkan komitmen untuk saling membahagiakan satu sama lain agar persahabatan kita terasa sempurna.
~{0}~
“Har, saya sudah berterus terang padanya. Sekarang, hanya kamu yang berhak menghapus air matanya. Dan kau harus lakukan itu. Saya tahu ketulusan cintamu padanya. Kamu sama sekali tak ingin melihat dirinya jauh dari kebahagiaan, bukan? Pergilah! Dia membutuhkanmu”, Zaynal membawaku ke Dilla. Dia mempersilakanku masuk menemani Dilla. Aku melihat air matanya mengalir deras. Batinku sangat tersiksa melihat hal itu. Teringin sekali aku menghapus air matanya dan membuat lekukan itu kembali tersungging di antara kedua pipinya yang tembem.
“Zaynal, apa yang kamu lakukan pada Dilla? Lalu mengapa kau mempersilakan saya untuk menghapus air matanya.”
“Dia membutuhkan seseorang yang benar-benar tulus mencintai dirinya. Dan sosok itu adalah Azhar. Iya itu kamu. Kamu punya kesempatan untuk selalu membuatnya tersenyum. Jadi, berbahagialah dengannya”, Zaynal menepuk pundakku. Ia pun tersenyum yang menandakan ia telah merelakan semuanya padaku. Senyum itu juga tanda bahwa ia telah menyerahkan kepercayaannya padaku.
“Terima kasih, Nal.”, kali ini ragaku sangat ingin memeluknya. Kekecewaan yang sempat aku rasakan tadi seakan menghilang begitu saja. Ya Allah, terima kasih. Kau masih menginginkan persahabatan kami tetap hidup.
“Sama-sama. Sudah saya bilang. Saya akan menepati janji itu. Saya akan membahagiakannya. Dan saya sudah lakukan semua itu. Dia bahagia bersamamu. Sekarang, kau boleh panggil saya lelaki.”
“Haha... Masih bisa sombong juga ternyata. Saya juga janji akan membahagiakan Dilla. Terima kasih sudah mempermudah jalan dalam meraih tujuanku itu.”
Aku bergegas menemui Dilla. Mengutarakan semua yang ada di hatiku. Kuhembuskan nafas cinta di telinga kanannya. Kubisikkan kata sahabat di telinga kirinya. Bagaimanapun, persahabatan juga tetap harus dijaga. Komitmenku padanya adalah sebagai seorang sahabat. Akhirnya, aku dapat memulai kebahagiaan bersamanya.
I love you, always. I will never ask for more than your smile. Because the time when I felt happy is the time when I saw your smile. Be a smiling one, please...

Pituruh, 2 Juni 2017. 16.41

Rabu, 10 Mei 2017

Cerpen : "Sebutir Dusta Dalam Hati"



Sebutir Dusta Dalam Hati
“Dunia ini telah menunjukkan akan kehancurannya. Di mana kini prestasi lebih dihargai dibandingkan dengan kejujuran. Mau jadi apa dunia ini? Menjadi sarang kebohongan? Kakek hanya berharap kalian senantiasa sabar menghadapi zaman yang penuh kehinaan ini.” Kakekku kembali menenggak secangkir kopi pahit, matanya yang hitam pekat sejenak memandang kami kemudian sesekali mengarahkan matanya ke arah sawah.
“Iya, kek. Kami akan selalu mengingat nasihat dari Kakek. Dunia ini memang sudah hancur, kek. Prestasi yang mungkin haram dihargai dengan mudahnya. Mereka tak memandang proses. Mereka hanya menginginkan hasil akhir.” Aku menambahkan sedikit opiniku padanya.
“Benar, kek. Kami pun heran. Mengapa negeri ini begitu mudahnya dirusak? Kita dibutakan oleh gelar, harta, atau hal lain yang sejatinya tidak begitu berharga di dunia. Bahkan boleh dikatakan, kejujuran kini bukan jaminan prestasi. Satu kata untuk negeri ini, memprihatinkan.” Yanto pun berhasrat meramaikan obrolan ini. Ia sangat suka membahas hal-hal seperti ini.
“Kalian semua benar. Pencapaian dalam hidup itu penting, cita-cita dan mimpi itu penting. Tetapi, untuk apa kita meraih semua itu tanpa adanya keikhlasan dan kejujuran? Nihil di dunia, nihil juga di akhirat.” Kakekku dulu adalah seorang wartawan yang kritis, cerdas, dan juga tanggap terhadap semua masalah yang menimpa negeri ini. Beliau adalah salah satu motivasi terbesar dalam perjalanan meraih mimpiku.
~{0}~
Aku dan Yanto kembali melanjutkan perjalanan. Kami bernostalgia tentang masa lalu kami. Kami juga bercerita tentang apa yang kami capai setelah mengenyam kerasnya bangku sekolah. Kami melepas rindu di setiap langkah kaki.
“Hardi, aku baru saja ditawari pekerjaan. Upahnya juga lumayan, Har. Kira-kira aku terima ndak ya?” ucap Yanto sambil membuka isi tas kecilnya, mengambil secarik kertas lalu menunjukkannya padaku.
“Hmm.., kamu yakin dengan pekerjaan ini?”
“Aku ragu, Har. Makanya aku tanya sama kamu. Sampeyan ki piye toh?
“Kalau menurut aku, terima saja dahulu. Nanti kalau kamu merasa cocok dengan pekerjaanmu itu, kamu bisa lanjutkan. Nanging aja lali, sampeyan kudu tetep jujur, To” Aku tersenyum memandangnya. Sahabat kecilku kini sudah bisa merasakan nikmatnya berkerja. Ya.. walau hanya di perusahaan kecil di desa. Tetapi, itu cukup untuk membuatnya bahagia.
Yanto sangat ingin menghidupi keluarganya yang kini hanya tersisa dua orang saja, yakni ia dan adiknya. Ibu dan ayahnya telah lama meninggal. Ia harus mencukupi kebutuhan adiknya yang masih duduk di bangku sekolah dasar. Ia pun terpaksa berhenti sekolah karena keterbatasan biaya.
“Siap, Har. Oh iya, lali aku. Aku belum jemput adikku di sekolah. Aku pamit pulang dulu, Har. Wassalamu’alaikum...” Yanto berbelok arah menuju rumahnya kemudian ia masuk sebentar, mengambil sepedanya, lalu ia berangkat menjemput adiknya.
Aku benar-benar kagum denganmu, To. Kamu memiliki semangat yang tinggi untuk terus berusaha. Kau tidak pernah mengeluh menahan beban yang kau rasa. Kau selalu ingin membahagiakan adikmu dan menyempatkan waktu untuknya. Aku bangga mempunyai sahabat sepertimu, To. Batinku kembali memuji dirinya. Dia sungguh membuatku bangga.
~{0}~
Lir-ilir lir-ilir. Tandure wus sumilir. Tak ijo royo-royo tak senggut temanten anyar. Cah angon, cah angon penekna blimbing kuwi. Lunyu-lunyu penekna kanggo mbasuh dodot ira. Dodot ira, dodot ira kumitir bedhah ing pinggir. Dondomana jrumatana kanggo seba mengko sore. Mumpung padang rembulane, mumpur jembar kalangane. Yo surak a surak ayo. Yo surak a surak horee...
Tembang Lir Ilir itu mengalun indah di mulut sekelompok anak. Mereka tampak senang dan gembira bermain, berlarian kesana kemari. Aroma kepolosan seorang anak benar-benar tampak di desa ini. Aku pun kembali mengingat masa kecilku yang sangat sederhana, yang hanya mengerti soal keriang gembiraan, berbahagia tanpa uang dalam genggaman, tanpa beban di pundak, dan tanpa kebohongan terukir di hati.
Terhenyak aku sesaat, seseorang pria berpakaian hitam-hitam berlari terbirit-birit. Postur tubuhnya seperti tidak asing lagi. Cara dia berlari pun seperti kukenal. Namun, aku tetap saja tidak dapat memastikan siapa orang itu. Penasaran menguasai raga ini. Aku pun mencoba mencari tahu siapa dia. Sial bagiku, kecepatan lariku tidak dapat menandingi kecepatan larinya. Aku pun mengurungkan niat mengejar pria itu.
Aku masih terdiam menikmati singkong rebus yang kakek berikan padaku. Rasanya? Sungguh, lidahku berkata nihil. Seperti percuma saja aku memakannya. Pikirku melayang ke kejadian tadi. Aku dirundung rasa ingin tahu yang tinggi. Perasaanku mulai berubah. Siapa dia?
“Har, sedang apa kau? Kau tampak sedang memikirkan sesuatu. Katakan apa itu?” sejumlah kecemasan muncul di wajahnya. Kakekku terus memandangiku seakan meminta jawaban dari pertanyaannya.
Boten onten napa-napa. Monggo dilanjut makannya, kek” Aku masih ragu untuk menceritakan ini semua pada kakek. Untuk saat ini, aku belum membutuhkan bantuan kakek dalam masalah ini.
Terlihat seseorang berjalan dari arah barat. Tampaknya ia sedang lelah, bahunya memanggul sebuah cangkul dan tangannya menggenggam sebilah sabit. Ia adalah Yanto. Ia pun menghampiriku.
“Hai, Har. Kamu masih di sini? Bukannya hari ini kamu akan balik ke ibukota?” Yanto berjalan mendekat lalu duduk bersamaku dan kakek di gubuk ini.
“Aku masih ingin berada di sini, To. Aku masih rindu dengan suasana di kampung ini. Aku masih ingin melihat keasrian, keaslian, dan kesejukan yang tidak aku temui di Jakarta. Mungkin besok, aku baru bertolak ke sana.”
Owalah ngono. Oh iya, dari kemarin aku belum sempat nanya ini ke kamu. Sebenarnya kamu kerja apa di sana?”
“Aku belum bekerja, To. Aku masih kuliah. Masih ada sekitar 2 semester lagi yang harus aku selesaikan. Rencananya aku ingin bekerja sebagai wartawan, seperti kakek dulu. Oh iya, bagaimana dengan pekerjaanmu sekarang? Tawaran yang kemarin, apakah kamu menerimanya?”
“Aku terima, Har. Dan siang ini, aku akan mulai bekerja.” Yanto tampak aneh. Nada bicaranya lain tak seperti biasanya. Raut mukanya pun dipenuhi kegelisahan. Seharusnya ia gembira dengan ini. Tetapi, mengapa ia tampak gelisah?
“Alhamdulillah, deh. Akhirnya kamu bisa bekerja.”, sahut aku mendengar pernyataannya.
“Iya, Har. Alhamdulillah.. Maaf, Har. Aku pulang dulu ya.. Siap-siap bekerja. Wassalamu’alaikum..”
“Oh iya, hati-hati. Wa’alaikumussalam..” Ada yang berbeda dalam dirinya. Entah apa itu. Aku pun bingung. Apa ini ada hubungannya dengan pria tadi? Entahlah, aku tak boleh terburu-buru dalam menyimpulkan.
~{0}~
Aku melanjutkan petualangan di desa ini. Desa yang penuh akan sejarah. Desa yang membesarkanku hingga berujud seperti ini. Aku berjalan bersama awan cerah yang mengikuti langkahku. Matahari pagi yang sudah melewati seperempat langit. Serta udara sejuk yang senantiasa mnemaniku sepanjang pagi ini.
Tiba-tiba sosok pria itu kembali muncul. Kini ia memakai jaket berwarna hitam serta jeans berwarna biru gelap. Aku berhasrat mengikutinya. Aku tak boleh kehilangan jejaknya. Bagaimana pun aku harus memastikan bahwa itu Yanto atau bukan. Sebenarnya apa pekerjaan Yanto?
Aku terus mengikuti langkahnya. Sungguh mencurigakan. Ia berhenti di suatu bangunan. Berdiri, kepalanya menoleh-noleh ke segala arah. Lalu ia berjalan memasuki bangunan tersebut. Apa yang akan dia perbuat? Setelah sekitar dua menit di dalam bangunan itu, ia keluar sambil membawa amplop berwarna coklat lalu berjalan lagi ke arah yang berlawanan.
Aku masih mengikuti di belakangnya. Ia berjalan menuju kampungku. Namun, tak seperti orang-orang lain yang memilih jalan ramai, namun yang ia lakukan sebaliknya. Aku terus memandanginya dari belakang. Aku terus mengawasi gerak-geriknya yang dipenuhi kecurigaan.
Ini kan jalan menuju rumah Yanto. Untuk apa dia ke sana? Pria itu tak boleh lepas dari pengawasanku. Aku menggumam dalam hati. Prasangka demi prasangka melayang bertebaran di dalam pikiranku. Apa yang ingin pria itu lakukan pada Yanto? Pria itu membuka pintu rumah Yanto. Beberapa saat kemudian, ia menggendong adik Yanto yang sedang tertidur pulas.
Mau dibawa ke mana anak itu? Apa yang akan dia lakukan? Astaga! Aku harus beritahu Yanto secepatnya. Aku pun berlari pelan-pelan menjauhi tempat persembunyianku itu. Aku pergi mencari Yanto. Aku masih menggenggam secarik kertas berisikan alamat tempat dimana Yanto bekerja. Aku pun bergegas pergi ke tempat itu.
“Maaf, pak. Saya ingin bertanya. Apakah di sini ada karyawan bernama Yanto?”
“Maaf, tidak ada, mas. Bahkan saya tidak kenal.”
“Oh, ya sudah, pak. Maaf mengganggu. Saya pergi dulu, pak. Wassalamu’alaikum...”
“Oh iya iya, silakan. Wa’alaikumussalam...”
Aneh, dia bilang kepadaku dia bekerja di perusahaan itu. Namun, salah satu karyawannya pun sampai tidak mengenalnya. Mana mungkin Yanto berbohong padaku? Tapi, karyawan itu juga tidak mungkin berbohong.
Siapa gerangan yang membawa adik Yanto keluar rumah? Sial! Aku tidak mengikuti orang itu. Tapi, seingat aku, adik Yanto sedang sakit. Jadi, mungkin saja dia sedang di rumah sakit. Aku berjalan pergi dari tempat itu. Aku putuskan untuk pergi ke puskesmas atau rumah sakit terdekat. Sampai kini aku masih keheranan. Siapa pria itu?
~{0}~
“Yanto? Hei! Kenapa kau lari? Hei tunggu!” Tubuhnya berbalik arah. Dia tampak ketakutan saat melihatku. Aku sempat sekilas melihat larinya. Astaga! Jadi, pria itu? Arrgghh... Aku harus mengejarnya.
Tubuhnya terhempas ke tanah setelah kakinya menghantam sebuah akar pohon. Aku bergegas mendekatinya. Dia masih mencoba untuk bangkit dan melarikan diri lagi. Tetapi, raga tak merespon. Akhirnya, ia pun terbaring lemah.
“Kau baik-baik saja, bukan?” Kubuka perlahan penutup kepalanya. Belum sempat terbuka, ia menyanggah tanganku.
“Jangan! Kau sudah tahu siapa aku. Maaf aku harus pergi. Adikku sedang sakit, aku harus menungguinya di rumah sakit. Aku tidak boleh terlambat” Suaranya sudah familiar di telingaku. Benar anggapanku terhadap pria ini.
“Tunggu! Apakah ini kamu, To? Jika benar, mengapa kamu memakai topeng dan penutup kepala seperti ini?”
“Kamu benar, Har. Ceritanya panjang dan bukan saatnya aku katakan yang sesungguhnya padamu. Kini, aku hanya harus menjaga adikku. Adikku sedang terbaring lemah. Dia membutuhkanku. Jadi, tolong perkenankan aku pergi sekarang.”
“Dengar, aku ini sahabatmu. Seharusnya kamu berterus terang padaku. Mengapa harus malu? Jika hal ini menyakitkan dan kau tidak mau jujur, hal ini akan terasa lebih menyakitkan. Sekarang katakan, mengapa kau seperti ini?”
“Baiklah jika kau memaksaku. Har, aku itu seorang perampok suruhan. Bosku adalah seorang mafia. Kemarin, waktu aku mendaftar bekerja di perusahaan itu, aku tidak diterima. Aku kecewa, Har. Aku terpaksa melakukan hal ini demi adikku. Adikku membutuhkan uang untuk kesembuhannya. Sekali lagi, aku terpaksa, Har”
“Mengapa kau lakukan itu? Bukankah masih banyak pekerjaan yang seharusnya kau ambil di dunia ini? Iya, aku tahu kau terpaksa, tapi mengapa kau ambil jalur yang jelas-jelas haram? Kau juga bisa meminta pinjaman uang dariku, bukan? Itu tak apa, tak masalah bagiku. Daripada kau harus berbuat keji”
“Maafkan aku, Har. Aku sangat kecewa waktu itu. Kau tahu sendiri, adikku lah satu-satunya hartaku saat ini”
“Sudah, sudah. Begini saja, kau pakai uangku dahulu untuk membayar semua biaya rumah sakit. Dan kau harus ingat, kau tak boleh mengulangi kekejian seperti ini. Kejujuran adalah nomor satu. Hidupmu dapat menjadi petaka hanya karena sebutir dusta dalam hati. Kau harus menjaga hatimu dari duri-duri kekejian yang dapat menyerangmu setiap saat.” Yanto memeluk erat tubuhku. Aku merasakan kebahagiaan merasuki tubuhnya. Aku juga melihat senyumnya terpancar lepas dari wajahnya.
“Terima kasih, Har. Kau benar-benar sahabat terbaikku. Seharusnya aku bersyukur telah diberikan seseorang yang begitu peduli pada diriku. Sekali lagi, makasih, Har” Senyumnya kembali terukir. Senyum yang seakan menghapus kekecewaan yang ia rasakan. Aku harap senyum itu terus terjaga hingga ia memejamkan mata untuk terakhir kalinya.

Pituruh, 2 April 2017. 14.57