Laman

Kamis, 14 April 2022

Kelabu

 “Memangnya kenapa? Saya hidup untuk diri saya sendiri, Tuhan, dan keluarga, kok. Punya hak apa kau bang?” Siti membela. Sementara itu, kakaknya, Tejo, tampak pasrah melihat kelakar adiknya.

“Baik, jika itu maumu. Aku hanya mengingatkan, aku hanya khawatir akan keselamatan dirimu”.

Ketengan masih enggan pergi, membuka kesempatan emosi untuk menguasai hati.

“Kalau abang ingin kita, sebagai rakyat, ingin bahagia. Maka suatu keputusanku, entah suatu kesiasiaan. Terutama keluarga kita, bang. Ini saat dan waktu saya. Kalau saja abang, awas saja!”

Tejo, baru saja ia simpan massa hari itu, disajikan pada masalah yang datang dari adiknya. Siti, seorang yang dianggap keras kepala oleh abangnya, justru adalah salah satu penggerak aktivitas massa tersebut.

Kalau saja abang bukan aparat, aku hanya rindu padamu, bang. Aku putuskan ini, agar kita tak lagi berseteru. Janganlah munafik, bang. Kau tidak boleh mengizinkan hanya di negaramu saja.

Pukul sepuluh, lima belas menit, keadaan kembali panas. Tejo dipanggil kembali untuk memulai wilayah penting di pemerintahan tempat demo.

“Halo bang. Sekali lagi, aku tak mau berhenti. Aku akan lawan terus, demi keluargaku”

Tejo hanya diam, ingin menangis. Ini bukan pertama kali dia bertemu dengan adiknya dalam suatu keadaan yang tidak diinginkan. “Ingat, bang. Kalau sampai, negara sembuh kami, keluarga kami, kami akan lebih merah lagi.”

“Kenapa abang diam saja? Jawab bang! Lihat keluarga kita, dan abang rela melakukan ini di atas dasar nasionalis. Mana rasa pedulimu?”

“Mundur! Ini tugas negara! Mundur cepat!”

Para menembakkan peluru peringatan. Namun, Siti tetap pada posisinya, meneriaki abangnya dengan penuh amarah.

“Bang, mbak sedang hamil, abang malah di sini. Kakak selalu merindu agar kau pegang perutnya. Mana kewajibanmu? Mana pedulimu, bang? Maju sini ayo! Aku rela dianggap pemberontak negara, apalagi melawanmu saja.”

“Diam kamu! Tahu apa kamu soal negara? Mundur!”

Akhirnya Tejo sudah tak mampu lagi menahan emosinya, di satu sisi dia membenarkan apa yang dikatakan adiknya, dia sangat rindu pada istrinya.

Demo mereda, massa yang kecewa memilih pulang untuk recovery , agar kembali fit untuk demo selanjutnya

“Suamimu itu lho, mbak. Kemana aja sih dia? Ga peduli banget sama keadaan bayi di perut ini”

“Dia lagi simpan, Ti. mbak di sini baik-baik saja.”

“Tapi, mbak. Di mana-mana suami lah yang bertanggung jawab penuh mulai dari hamil sampai melahirkan? Lah ini, pulang, berhenti, tak pernah pernah. Apakah kepedulian nasionalis bisa membayar semua ini?”

“Sudahlah, Ti. Kamu itu lho, dia kan abangmu, dia kan aparat, jadilah berat, buat negara.”Hmm, negara terus, keluarganya sendiri? Entah lah, lebih baik saya istirahat mbak.

Demonstrasi gelombang ketiga berlangsung tiga hari kemudian. Terjadi bakar-bakaran di mana-mana. Siti terus mencari keberadaan abangnya, karena kakak iparnya sebentar lagi akan melahirkan, dia benar-benar tidak bisa memaafkan kakaknya, yang seolah tak peduli dengan kondisi istrinya sendiri.

“Dor!!” Sebuah peluru tajam menancap di dada Siti, tersisalah sedikit hidup dalam hidupnya, lalu ia meninggal. Tersimpanlah rasa dendam sebelum terbalaskan.

Tejo, ia juga sedang mencari cara agar ia bisa menghubungi istrinya. Di samping itu, dia juga masih harus berada dalam situasi dan kondisi di luar sana. Tejo menyadari ia sedang tidak baik-baik saja. Baru kali ini, Tejo menangis, seolah menyesal bahwa dia tidak mendengarkan adiknya. Tejo tak punya waktu lama, dia juga harus tahu kabar kelahiran anaknya, dia tidak peduli lagi berkostum aparat, dia hanya ingin melihat kelahiran anaknya, di saat dia pasti kehilangan adiknya.

Maafkan aku, aku tak becus, aku gagal menjaga keluargaku, bahkan adikku sendiri. Kumohon Tuhan, segala puji bagi-Mu. Izinkanlah aku melihat anakku.

Tejo benar-benar dirundung duka, anaknya selamat, namun tidak dengan istrinya. Istrinya dinyatakan meninggal sewaktu-waktu melahirkan. Hatinya terus mengerang sendiri, kali ini dia benar-benar, teman dalam lapas sejatinya teman, melainkan karena nasib yang sama.

Minggu, 08 September 2019

Cara Membuat Sempolan Dari Cangkang Telur

Cara Pembuatan Sempolan Cangkang Telur
Pembuatan sempolan cangkang telur pada dasarnya hampir sama dengan pembuatan sempolan pada umumnya. Adapun alat dan bahan yang diperlukan dalam pembuatan sempolan yaitu sebagai berikut 

Peralatan :

Tempat Penggorengan
Susuk wajan
Pisau
Baskom
Talenan 
Sendok
Piring saji
Cobek
Cething
Serog
Blender
Tusuk Sate
Ulekan


Bahan :

Cangkang Telur
Bawang merah 4 butir
Bawang putih 2 siung
Lada bubuk 1 sachet
Garam 1 sdt
Tepung kanji ¼ kg
Gula pasir 1 sdt
Daging Ayam ¼ kg
Daun Bawang 2 lembar
Air secukupnya
Tepung panir


Berikut cara pembuatan sempolan :


1. Cangkang telur pertama-tama dicuci hingga bersih, lalu dijemur selama 2 hari hingga benar-benar kering. 

2. Siapkan blender khusus lalu masukkan cangkang telur yang telah kering itu ke dalam blender.
Cangkang telur diblender hingga benar-benar halus.
Sebagai antisipasi. Jika belum benar-benar halus, masukkan serbuk cangkang telur tadi dan diulek hingga benar-benar halus seperti tepung terigu pada umumnya.
3.Masukkan daging ayam, garam, gula pasir, lada bubuk, bawang putih, bawang merah. Blender sampai tercampur secara merata.
4. Masukkan adonan tersebut ke dalam baskom. Beri tepung tapioka, tepung cangkang telur dan irisan daun bawang.
5. Aduk secara merata menggunakan tangan hingga adonan dapat dibentuk.
6. Panaskan air hingga mendidih.sambil menunggu air mendidih .kocok  1 butir telur dan siapkan 7. tepung panir di piring.
7. Setelah adonan kalis, bentuklah adonan dengan cara dikepal-kepal di tusuk sate.
8. Jika air sudah mendidih, rebuslah sempolan yang sudah dibentuk hingga mengambang
9. Setelah direbus, tiriskan sempolan tersebut dan masukkan ke cething.
10. Panaskan minyak goreng di wajan.
11. Sambil menunggu minyak panas, balurkan sempolan yang sudah direbus tadi dengan kocokan telur dan taburkan tepung panir secukupnya.
12. Goreng sempolan tersebut hingga berwarna kekuning-kuningan.
13. Sajikan


Meskipun terbilang cukup mudah, namun dalam pengerjaannya, pembuatan sempolan biasanya menemui sejumlah kendala. Adapun kendala-kendala tersebut adalah sebagai berikut. 

Dalam pembuatan sempolan kami memiliki sejumlah kendala yaitu, pada saat membuat adonan sempolan, adonan tersebut terdapat tepung cangkang telur yang kurang halus, sehingga dari proses penelitian kami mendapatkan sempol yang terlalu terasa cangkangnya. Selain itu, sempolan yang digoreng kurang matang di bagian dalamnya.
Untuk mengatasi kendala kendala tersebut maka dapat dilakukan beberapa cara. Adapun langkah-langkah yang bisa dilakukan untuk mengatasi kendala tersebut adalah sebagai berikut:
Melihat cara pembuatan yang telah ada di internet sehingga kita dapat memasukkan bahan-bahannya dengan intruksi yang telah tersedia. Kemudian, untuk kendala dalam tepung cangkang telur yang kurang halus, sebaiknya tepung tersebut diulek lagi hingga benar-benar halus. Untuk kendala sempolan yang kurang matang, maka dapat ditambahkan sedikit minyak goreng dalam penggorengannya.



Literasi sebagai Senjata Menghadapi Revolusi Industri

Dalam menghadapi perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan, serta menghadapi Revolusi Industri 4.0, kita sebagai pemuda literasi hendaknya memiliki sikap kritis dan terbuka, memiliki kemampuan menyerap informasi yang baik serta kemampuan adaptasi yang baik. Ketiga hal tersebut dapat diwujudkan dengan kemampuan literasi yang mumpuni, baik media cetak atau media sosial.

Perkembangan literasi di Indonesia masih tergolong pelan. Kita masih lebih suka membaca sesuatu yang sedikit kurang bermanfaat, seperti sosial media atau semacamnya. Sebenarnya sosial media tidak sepenuhnya buruk, banyak juga wawasan yang kita dapat yang semakin lama dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis kita dan melatih sikap terbuka terhadap pendapat orang lain. Semua itu tergantung diri kita. Apabila kita pandai beradaptasi terhadap segala sesuatu dan diiringi literasi yang cukup, maka Revolusi Industri 4.0 tidak lagi menjadi masalah.


Sabtu, 07 September 2019

10 FILM TERBAIK DI 6 BULAN PERTAMA 2019



Film Indonesia terbaik di 6 bulan pertama 2019
Kita sudah melewati 6 bulan pertama di tahun 2019. Dan saya sudah jatuh hati ke beberapa film Indonesia. Berikut adalah list nya:
1.Keluarga Cemara (10/10)
Dir. Yandy Laurens
Karya dari Yandy Laurens yang menyentuh dan hangat sekali. Terasa pendekatan personal dalam film ini dan tak terasa ada kecacatan apapum dalam film ini.
2.27 Steps of May(10/10)
Dir. Ravi Bharwani
Sebuah film yang menyentuh sekaligus menyayat hati siapapun yang menontonnya. Membuat kita terus bersimpati dengan apa yang terjadi di dalamnya.
3.Kucumbu Tubuh Indahku (10/10)
Dir. Garin Nugroho
Salah satu film kontroversi tahun ini yang mengangkat tema yang sangat tabu dengan permainan sinematografi dan nilai seni yang tinggi. What a masterpiece!
4.Sunyi(9/10)
Dir. Awi Suryadi
Satu-satunya film horor karya MD Pictures yang berhasil dengan sangat sangat gemilang dengan cerita yang setengah fresh tapi di eksekusi dengan sangat hati-hati dan berhasil.
5.Mantan Manten(8,5/10)
Dir. Farishad Latjuba
Mengajarkan keikhlasan dengan cara yang menyakitkan. Film yang unik karena menciptakan sebuah pertentangan antara dunia modern dan dunia tradisional.
6.Terlalu Tampan(8,5/10)
Dir. Sabrina Rochelle Kalangie
Mengingatkan gue dengan Wes Anderson dengan warna yang colourfull dengan permainan visual yang gak biasa. Gue suka dengan seberapa absurdnya komedi ini dan bisa dibawa ke dalam film dan bisa membuat kita tertawa.
7.Pocong The Origin(8/10)
Dir. Monty Tiwa
Film yang sangat fresh secara akting, naskah, jalan cerita dan twist. Sebuah film horor dengan bumbu yang berbeda tanpa ada jor joran jumpscare murahan dengan sinematografi, permainan warna serta set tempat yang apik!
8.Rumput Tetangga (8/10)
Dir. Guntur Soeharjanto
Harus diakui, film Rafi Ahmad yang satu-satunya bagus karena dibuat dengan hati-hati ketika membawakan isu wanita karier dengan pendekatan yang sangat personal membuat film ini sangat berhasil meski komedinya berantakan sekali.
9.Orang Kaya Baru (8/10)
Dir. Ody C. Harahap
Joko Anwar selalu berhasil dalam menciptakan komedi yang dipadukan dengan cerita yang sangat melekat pada keseharian ditambah dengan kritikan kritikan tajam yang cerdas serta film ini sangat rapih!
10.Foxtrot Six(8/10)
Dir. Randy Korompis
Film berkelas! Meski harus di akui CGI nya masih agak bermasalah, film ini udah berani maju dengan cerita yang dicampuradukkan dengan politik, film ini terasa berat sekali tetapi dipadukan dengan action yang gila membuat film yang harus nya berat menjadi tak terasa berat sama sekali.




Rabu, 28 Agustus 2019

RESENSI : Mangir



Hasil gambar untuk Mangir





Judul                 : Mangir
Pengarang         : Pramoedya Ananta Toer
Edisi                  : Cet. ke-2
Subyek              : Drama
Penerbit             : Kepustakaan Populer Gramedia
Tahun Terbit      : 2002
Tempat Terbit    : Jakarta





Mangir diambil dari nama sebuah desa di Yogyakarta. Pada masa pemerintahan Panembahan Senopati, Mangir merupakan daerah daerah bebas pajak. Bagi kekuasan kerajaan Mataram Jogja, Mangir adalah duri dalam daging. Desa ini secara terang-terangan tidak mau tunduk pada kerajaan Mataram, apalagi membayar upeti seperti wilayah lainnya.  Tokoh pemberontak dari Mangir itu adalah Ki Ageng Mangir. Dia ditakuti karena memiliki pusaka sakti, tombak Kyai Plered. 
Pram ingin menguak misteri yang selama ini menutupi Ki Ageng Mangir, melalui bukunya. Menurut versi Mataram, Ki Ageng Mangir adalah pemberontak yang halal darahnya untuk dibunuh. Maka diaturlah sebuah skenario untuk menjebak Ki Ageng Mangir. Caranya,  Panembahan Senopati mengirim Pambayun, yang tak lain adalah anak perempuan tertuanya, untuk menyamar sebagai penari ronggeng ke desa Mangir, dengan harapan Mangir terpikat dan menjadikan Pambayun sebagai istrinya. Jebakan itu berhasil. Ki Ageng Mangir jatuh cinta. 
Persoalan menjadi rumit ketika Pambayun kemudian secara tulus jatuh cinta kepada Ki Ageng Mangir, padahal tugasnya adalah membawa kepala Ki Ageng Mangir ke hadapan ayahandanya. Pambayun meminta Ki Ageng Mangir untuk mau datang menghadap ayahandanya, musuh politik  Ki Ageng Mangir sendiri yang kini adalah mertuanya sendiri. 
Versi Pram, adalah keniscayaan bagi Ki Ageng Mangir untuk begitu saja tunduk kepada Raja Mataram. Itu bukanlah watak aslinya. Mangir sebelum mati pasti melakukan perlawanan hingga titik darah penghabisan. Bukan mati secara sia-sia di atas bongkahan batu, di bawah injakan kaki kuasa Panembahan Senopati! 
Cerita dari Pram ini ingin membuka mata dunia bahwa keraton Mataram itu menyimpan watak licik, yakni menghalalkan segala cara. Maestro perancang skenario pembunuhan itu adalah Ki Juru Martani.  Tentu dengan persetujuan Panembahan Senopati yang merasa kedudukannya terusik. Kisah ini tidak hanya berhenti pada masa kekuasaan Mataram.
Pada masa kini, masih banyak beredar Ki Juru Martani yang lain, yang siap mengganyang siapa saja yang dianggap lawan politiknya.
Karya sastra ini cocok dibaca untuk kalangan remaja dan dewasa, terutama yang menyukai cerita-cerita khas tanah Jawa atau yang menyukai cerita-cerita histori di masa lampau, khususnya kerajaan.

Sabtu, 20 Oktober 2018

Cerpen : "Teman Bermain"


Teman Bermain
Senja ini, di bawah atap seng, aku mendadak ketakutan. Entah apa, entah siapa aku tak tahu. Bersama angin senja yang menyerang. Ragaku menggigil dan bulu kudukku telah berdiri. Selimut ini memang menutupi tubuhku, tapi tidak seluruhnya. Itu sebabnya, aku masih merasakan dingin begitu menghujam tubuh ini. Suhu dingin bercampur dengan panas hati semakin membuat diriku merasa tak karuan.
Aku masih terduduk di depan televisi yang sedari Ashar belum aku matikan. Entah siapa saja yang menonton. Entah apa yang aku tonton. Remote pun masih ada dalam genggamanku. Mereka seolah membuat acara tanpa penonton.
          “Kris, adek kamu tuh nangis terus dari tadi. Beliin apa kek sono”. Sontak suara itu membuat keadaan hening menjadi pecah. Aku terkejut, karena sedari tadi suasana malam yang hening, membuatku merinding, tiba-tiba saja ada suara yang keras mengagetkanku. Lagipula, mengapa sih Ibu berbicara dengan keras, padahal kan harisudah gelap.
“Hmm… Iya, bu.” Aku beranjak meninggalkan tempatku duduk tadi. Kulepaskan kain halus nan tebal yang sedari tadi membungkus tubuhku. Kuganti kain tersebut dengan kain tenun berpola kotak-kotak yang orang sebut dengan sarung.
Aku membuka pintu, keraguan pun mulai bermunculan. Bulu kudukku kembali berdiri. Konon di Desa Karanganyar, desa tempatku tinggal banyak cerita mengenai Wilwo. Entah itu mitos atau apa. Yang jelas, kebanyakan dari warga sini mempercayai cerita itu.Menurut asal-usulnya, hantu ini berasal dari lereng Gunung Merapi. Hantu ini juga populer di kalangan warga lereng Merapi.Wilwo, hantu yang konon katanya suka membawa anak-anak kecil yang masih bermain-main dan belum masuk rumah saat adzan Maghrib.Banyak sekali kasus yang dialami warga sini mengenai kehilangan anak, kembali lagi setelah 2-3 hari dan banyak dari anak-anak tersebut menceritakan tentang sosok Wilwo ke orang tuanya. Dengan fisik berlengan panjang dan mirip slenderman –digambarkan menyerupai pria tipis tinggi dengan wajah kosong,  dan mempunyai tentakel, umumnya suka menculik orang, terutama anak-anak–.
Memang sekilas uraian tentang hantu ini mirip dengan apa yang orang ceritakan mengenai Wewe Gombel. Wilwo cenderung lebih ‘baik hati’, karena sosok hantu ini hanya membawa anak kecil untuk bermain-main. Dia tidak bermaksud menculik untuk dijadikan anak. Pada akhirnya, hantu ini akan mengembalikan anak tersebut tanpa terluka.
Lain halnya dengan Wewe Gombel, makhluk halus ini memang sengaja menculik anak-anak untuk dijadikan anaknya. Dia tidak akan mengembalikan anak tersebut hingga orang tuanya melakukan semacam ritual untuk melepaskan anaknya dari pengaruh Wewe Gombel.
~{0}~
Aku tetap bertekad melanjutkan perjalananku. Bagaimanapun juga, kita harus mau melakukan apa yang seorang ibu perintahkan. Hingga akhirnya, aku tiba di sebuah warung yang biasa ibu pilih untuk membelikan adikku jajan-jajanan khas anak-anak.
“Kula nuwun….”
“Nggih, mau beli apa, mas?”
Aku membeli 4 jajanan yang biasa ibu belikan untuk adikku. Sisa uang itu kubelikan 2 botol minuman, untuk sekedar melepas dahaga. Aku berniat langsung kembali ke rumah. Suasana senja ini mulai mencekam ditambah daun-daun yang mulai berguguran dari pohonnya serta diiringi angin yang tiba-tiba menghembus. Jalanan yang sepi di mana hanya pohon-pohon berbaris menemani pandangan ini. Ranting-ranting dan rimbun daunnya membentuk sebuah bayangan yang sedikit mengingatkanku akan film-film horor. Belum lagi hawa dingin yang menyambut. Temperatur asing yang sangat mencekam yang membuat bulu kuduk merinding, bahkan kain tenun ini pun tak sanggup menahan hawa dinginitu.
Istighfar dan Ayat Kursi terus berkumandang lirih di hati. Kucoba berjalan dengan penuh keyakinan bahwa Tuhan akan melindungi perjalananku. Masih terus berkumandang. Hingga akhirnya telingaku berdengung tiba-tiba. Srett.. Sreeett.. Suara apa itu? Kemudian, muncul satu suara melenguh bersamaan ditambah dengan suara menyeret yang berat itu. Tanpa ragu, aku pun langsung lari terbirit-birit tanpa memperdulikan keadaan.
Aku berhenti sejenak mengembalikan nafasku yang hampir habis saat lari tadi. Aku berhenti di suatu tempat yang dekat dengan rumahku berada. Aku sudah berani berjalan santai karena keadaan sudah mulai ramai. Terlihat bapak-bapak dengan kain sajadah yang tergantung di salah satu bahunya dan sebuah peci yang terpasang erat di kepalanya. Mereka berjalan ke arah masjid dan akan melakukan sholat Maghrib berjama’ah.
“Ini, dek jajannya. Udah ah, gak usah nangis terus” kuberikan jajanan tadi ke adikku dan sedikit menghiburnya.
Tiba-tiba, adikku melangkahkan kakinya menuju teras. Kuperhatikan gerak-geriknya yang memang agak mencurigakan. Dia terlihat takut, namun tampak tertarik terhadap sesuatu. Dia terus memajukan tubuhnya ke depan. Hingga akhirnya, ibuku menyetopnya.
“Dek, masuk! Jangan keluar! Masih maghrib, nanti ada Wilwo nyulik kamu!”
“Wilwo itu siapa? Kenapa nyulik-nyulik aku?” adikku menjawab dengan pertanyaan singkat.
“Udah, udah! Jangan nanya-nanya dulu. Nanti dia gak terima. Malah kamu diculik!”
Lalu, tiba-tiba adikku kembali menangis seperti anak yang tidak dikabulkan keinginannya. Dia terus merengek meminta keluar rumah. Apa yang membuat ia berkelakuan seperti itu? Apakah memang benar si Wilwo terus memanggil namanya layaknya hantu yang biasa orang tonton di film-film layar lebar?
Dia masih menangis keras. Ibuku pun menggendongnya dan membawanya menuju kamar. Ibu menenangkan adikku agar ia berhenti menangis. Lalu terdengar suara ibu menyanyikan sebuah lagu,
Wilwo, dijawil, digawa
            Sing turu ora digawa, sing ora turu digawa (2x)
Anehnya, setelah mendengar lagu itu, adikku perlahan berhenti melanjutkan rengekannya dan memejamkan matanya. Ia pun tertidur.
“Bu, itu lagu apaan si? Kok bisa tiba-tiba tidur gitu?”
“Lagu itu konon diciptakan orang-orang tua zaman dulu untuk menenangkan anak-anak balita untuk segera tidur. Mereka menakuti anak-anak itu dengan lagu ini.”
“Hii ngeri…..!!! Ada-ada saja orang zaman dulu.”Menurut cerita, hantu Wilwo ini sering menengok anak kecil saat mereka tidur di malam hari. Apabila anak tersebut sudah tidur, maka Wilwo ini pun tidak akan membawanya pergi. Namun, apabila anak yang ditengok belum tidur, dia akan membawa anak itu ke dunianya dan dijadikan sebagai ‘teman main’.
~{0}~
Keesokan harinya, aku menemani adikku bermain. Momong kalau menurut istilah orang-orang sini. Awalnya kuperhatikan betul-betul adikku bermain ke mana saja selama ia tak hilang dari pandanganku. Aku selalu memperhatikannya dan tetap menjaganya agar senantiasa tidak jauh dari tempatku berdiri. Hingga sampailah pada tempat kemarin di mana akuberlari ketakutan. Seketika aku melihat sekitar, suasana mulai terasa mengerikan. Aku baru ingat kalau aku sedang momong adikku. Kemana ia? Aku lalai, hingga aku kehilangan jejak adikku. Kulihat jam tanganku, waktu sudah menunjukkan pukul lima sore, waktu di mana hantu Wilwo sudah mulai melancarkan aksinya. Aku khawatir, tak tahu harus bicara apa pada ibu. Sementara matahari perlahan mulai turun meninggalkan langit dan adikku belum juga kutemukan. Bagaimana ini?
Aku terus mencarinya, tak peduli gangguan alam di sekitarku. Sementara itu, banyak bisikan-bisikan ghaib yang masuk ke pendengaranku. Keadaan benar-benar mencekam. Kejadian kemarin kembali terjadi. Suara itu. Suara seperti gerakan menyeret sesuatu kembali terdengar, kali ini dengan radius yang lebih dekat. Kemudian, aku mendengar suara teriakan anak kecil memanggil-manggil. Keras sekali dan benar-benar jelas terdengar. Lalu aku mendekat ke arah suara itu. Aku tak sadar bahwa sebenarnya aku telah masuk ke dunianya. Dunia yang menggelapkan semua jalan untuk kembali ke rumah.
Kulihat di sekitar tempatku berdiri, banyak sekali anak-anak kecil berkeliaran di sana. Mereka terlihat riang, tanpa beban terlihat dalam tawa mereka. Hanya saja, wajah-wajah mereka tampak pucat. Aku lalu mengarahkan pandanganku ke tempat anak-anak itu bermain. Perlahan jumlah anak-anak itu berkurang. Satu-persatu dari mereka hilang entah kemana. Hingga akhirnya, tersisa satusaja. Dan anak itu mirip sekali dengan adikku. Apakah adikku diculik Wilwo?
“Hei, mas. Bangun! Maghrib begini ngapain tidur di jalanan? “ seorang wanita paruh baya menghampiri tubuhku yang tergeletak di jalan setapak yang tadi aku lewati.
“Saya ada di mana, bu?” tanyaku pada wanita paruh baya itu sambil perlahan membuka mataku dan seketika aku sadar bahwa tadi itu hanyalah mimpi. Namun, tetap saja itu membuatku khawatir akan keadaan adikku.
“Di sini, di desamu. Bukankah rumah kamu nggak jauh dari sini?”
Seketika aku langsung beranjak dan berlari menuju rumah. Kubuka perlahan pintu rumah dan masuk mengendap-endap sambil mencoba mengecek apakah adikku sudah di rumah atau belum. Terlihat di sana ia sedang bermain-main dengan gadget-nya. Syukurlah, kejadian tadi hanyalah sebuah mimpi.
Tiba-tiba ada suara orang mengetok-ketok pintu. Kubukakan pintunya, aku terkejut bukan kepalang. Seorang wanita paruh baya tadi! Dia tadi memang terlihat ingin bertanya sesuatu. Tetapi, karena aku khawatir akan keadaan adikku, maka akhirnya aku pun meninggalkannya sendirian di tempat itu.
“Mas, mas lihat nggak anak kecil balita lewat di sekitar tempat mas tadi tidur?” wanita paruh baya itu nampak cemas, persis yang aku alami tadi.
“Nggak, soalnya dari tadi saya juga momong adik saya, bu. Balita juga. Terus tiba-tiba hilang gitu aja. Eh, ternyata adik saya sudah di rumah.”
“Nah, itu. Anak saya juga seperti itu, mas. Tiba-tiba menghilang gitu aja”
Seketika aku berpikir, mengingat-ingat kejadian yang baru saja aku alami. Anak kecil? Balita? Apakah anak yang tadi kutemui di tempat itu adalah anak ibu ini? Entahlah.
“Ciri-cirinya bagaimana, bu? Mungkin saja saya bisa bantu”
Dari belakang, adikku berlari ke arahku. Ia tiba-tiba memeluk kakiku. Sambil merengek-rengek manja.
“Nah, mirip kaya gini, mas!”
Aku langsung terkejut. Seketika pikiranku mengarah ke sosok hantu yang sedang ‘tenar’ di desa ini. Hantu yang selalu saja membuat orang tua di desa ini resah. Arrrghhh.. Itu hanya asumsiku semata. Aku mencoba berpikir positif. Mungkin ibu ini lalai menjaganya, hingga anaknya pun sebenarnya pulang ke rumah, namun dianggap menghilang oleh ibunya.
~{0}~
“Bu, adik kemana? Kok dari tadi aku gak lihat?”
“Lah, tadi katanya mau nemuin kakaknya. Tadi dia bilang sendiri ke ibu. Jangan bikin ibu pusing, Kris!” kulihat wajah ibu nampak cemas. Namun, jujur aku tak tahu apa-apa. Sedari tadi aku tidak melihat adikku. Lagi-lagi pikiranku melayang ke arah Wilwo itu. Firasatku berkata buruk. Jika memang benar adikku diculik, lalu bagaimana kabar anak ibu itu? Anak wanita paruh baya itu? Aku tak tahu sedang memikirkan apa, yang jelas aku kembali merasa khawatir lebih dari yang kemarin aku rasakan.
Aku langsung berniat mencari adikku. Kemanapun ia pergi, akan kucari. Karena aku merasa ia adalah tanggung jawabku. Bagaimana aku bisa disebut kakak yang baik, jika mengurus adik saja aku tak bisa?
Aku melihat ibu paruh baya itu menuntun anaknya yang masih balita. Dia terlihat senang sekali, begitupun anaknya. Aku pun memutuskan untuk menghampirinya.
“Permisi, bu. Itu anak ibu?”
“Iya, mas. Kemarin rupanya anak ibu kecepet, mas. Dia cerita macem-macem selama masa kecepet itu. Katanya sih, ia melihat sosok pria kepalanya tiga, tangannya panjang sampai ke tanah. Mukanya seram, bawa anak kecil juga. Terus tiba-tiba ia dibawa ke suatu tempat yang isinya banyak permainan mirip di sekolah TK. Waktu itu, katanya cuma dia dan si pria itu aja yang ada di sana. Sampai akhirnya, pria itu bawa anak kecil lagi, dan anak saya dibawa pulang ke tempat mas kemarin tertidur. Dan saya menemukannya di sana, tak lama setelah saya pergi dari rumah mas. Seperti itu, mas” kulihat tubuh anak ibu paruh baya tersebut, nampak baik-baik saja. Tak ada luka sedikitpun, baik psikis maupun fisik. Ia pun menempatkan dirinya layaknya anak pada masanya. Mengoceh layaknya anak seumurannya.
Aku pergi meninggalkan wanita paruh baya itu, mengucapkan terima kasih dan melanjutkan perjalananku dalam mencari adikku. Aku langsung menuju ke tempat ibu paruh baya tersebut menemukan anaknya, lebih tepatnya ke tempat aku tertidur di jalanan. Saat ragaku telah sampai di tempat itu, aku menunggu kedatangan makhluk itu, karena aku berpikir makhluk itu akan mengembalikan adikku langsung kepada keluargaku. Bersama angin malam yang menghujam raga ini, aku menunggunya. Sambil terus mencoba menutupi seluruh raga dengan sarung, mencegah berdirinya bulu kuduk. Akhirnya setelah lama kutunggu, makhluk itu tak kunjung datang, bahkan waktu pun telah menunjukkan pukul tujuh.
Aku mencoba mengingat-ingat sesuatu. Lalu muncul sebuah ingatan yang sempat aku simpan beberapa waktu lalu. Yup! Nyanyian itu. Lagu yang ibu nyanyikan saat menenangkan adikku pada malam itu. Kuingat-ingat liriknya. Lalu, mulutku perlahan mengeluarkan suara dan mulai menyanyikan lagu ini. Sambil terus kunyanyikan lirih, suasana pun terasa semakin mencekam, bulu kudukku pun semuanya berdiri, tak ketinggalan perasaan takut yang membuat jantung berdebar-debar kencang. Tiba-tiba terdengar suara memanggil.
“Kakak! Kak Krisna! Apa kakak memanggilku?” suara yang tak asing lagi, begitu jelas terdengar. Yup! Adikku kembali.
“Kamu kemana aja? Kakak cariin dari tadi” aku melihat wajahnya. Masih ada ketakutan yang tersisa nampak di bola matanya.
“Dari sekolah TK, kak. Asyik di sana lho, kak. Tapi, di sana cuma sebentar, kak. Kurang puas!” nada berbicaranya aneh. Tak seperti biasanya. Seperti masih ada rasa takut dibalik kebahagiaannya saat ini.
“Kamu ngapain ke sana? Sendirian?”
“Iya, kak. Sendirian. Tapi terus ada bapak-bapak kepalanya tiga, tangannya panjang, mukanya seram sambil bawa anak kecil satu lagi, nggak tahu siapa. Terus, bapak itu ngajak aku main lagi, tapi aku bilang, aku mau pulang. Bapak itu juga tadi gendong aku, pas dia nganterin aku ke sekolah TK itu”
“Ya sudah, yang penting kamu nggak apa-apa. Sekarang pulang, yuk.” setelah mendengar penjelasan adikku, aku berpikir sejenak. Cerita yang hampir sama dengan apa yang anak wanita paruh baya itu ceritakan. Apa mungkin mereka dibawa Wilwo ke tempat yang sama? Memang benar selama ini kata orang-orang sini, makhluk halus itu suka membawa anak kecil dan mengembalikannya dalam keadaan baik-baik saja. Mungkin Wilwo itu menganggap anak kecil bisa menjadi ‘teman main’ baginya. Syukurlah kalau begitu. Sekarang yang penting, adikku baik-baik saja.
Konon, ada dua versi cerita dari makhluk Wilwo ini. Ada yang berpendapat bahwa Wilwo ini adalah hantu lelaki yang ditinggalkan istrinya karena tidak bisa membuat keturunan dan sebagian berpendapat bahwa Wilwo ini adalah hantu seorang kakak yang adiknya dimangsa binatang buas di hutan. Jadi, untuk para orang tua, jangan terlalu cemas dengan makhluk satu ini. Ia hanya menjadikan anak sebagai ‘teman main’ saja.

            Pituruh, 30 Maret 2018. 13.36